Top-ads

RUANG ARTIKEL

KISAH

RUANG BACA

Ameera Ahmad/FOTO: bbc

Menulis berita sesuai fakta dan realita merupakan sebuah tanggung jawab dari seorang Jurnalis. Namun bukan hal mudah jika hal itu dilakukan di negara perang. Perkenalkan, Ameera Ahmad, seorang Jurnalis muda yang sedang menjadi sorotan dunia. Perempuan muslimah ini siap mati untuk bisa mengungkap fakta dibalik perang Gaza.

Selain itu, diketahui perempuan berusaia 32 tahun ini juga merupakan perempuan pertama yang direkrut untuk menjadi seorang fixer-koresponden dijalur Gaza-sebuah media yang meliput peperangan. Bersama keluarganya dari Libya, Ameera pindah ke Gaza sejak dia berusaia 3 tahun. Di mana setiap harinya dia harus meninggalkan ketiga anaknya.

Bahkan, lebih dari itu, dia sendiri tidak bisa memastikan apakah dirinya akan kembali atau tidak. Sehingga dia selalu membawa foto ketiga anaknya. “Saya melakukan pekerjaan ini, karena saya yakin jika tidak melakukannya maka sebagian besar cerita Gaza akan hilang. Ada banyak cerita yang bisa saya ceritakan tentang negara saya dan tidak semuanya buruk. Saya cinta negara saya. Meskipun kita hidup dalam pengepungan, kemiskinan, pengangguran, tapi itulah kehidupan,” ujarnya seperti dilansir dari laman aljazeera.

Keingintahuannya begitu besar, hingga ketika mendengar suara tembakan atau bon saja dia tidak menyelematkan diri melainkan mendekat. Ameera mengatkan akan berlari ke pusat suara bom karena ingin menjadi orang yang pertama yang berada di sana mengabarkannya kepada dunia. “Menjadi fixer dan jurnalis di Gaza memang sulit. Tapi ketika saya mendengar sura tembakan atau bom, saya akan berlari kesana karena saya ingin menjadi orang yang pertama yang berada di sana dan kabar ini harus diberitakan.” tambahnya.

Sumber:
http://majalahkartini.co.id/inspiratif/kisah/ameera-ahmad-jurnalis-perempuan-pertama-siap-mati-di-gaza/
Mia Ilmiawaty/FOTO: majalahkartini.co.id

Bagi ibu-ibu atau perempuan yang aktif di media sosial, tentunya mengenal nama Mia Ilmiawaty Saadah. Di mana salah satu status facebooknya dengan judul ‘Sepatu Orang Lain’ begitu menginspirasi banyak orang, hingga 5.951 kali dibagikan dan 442 orang berkomentar. Dibalik itu semua, Ibu dari satu anak ini memiliki kisah yang inspiratif, selain pernah hidup bersama dalam rangka mengunjungi suami di Suriah, dan saat ini menyimpan kekhwatiran karena suami tercinta hingga kini masih berada di Suriah.

Mia begitu biasa dipanggil menceritakan kisah saat suaminya (AM. Sidqi) diberangkatkan ke Suriah sebagai diplomat. Awalnya sang suami yang baru saja kembali setelah tugas belajar di Melbourne, ditempatkan di Biro Kepegawaian Kementerian Luar Negeri. Saat itu KBRI Suriah memerlukan pergantian Staf, tetapi tertunda sebab belum ada yang menggantikan. “Karena tidak ada yang menggantikan, tetapi kantor tetap harus mengirim diplomat ke sana, tetap harus ada yang berangkat, maka Sidqi bersedia mengemban tugas tersebut,” ujarnya.

Saat itu, lanjut Mia, dirinya mulai cari info tentang Suriah, melihat tempatnya yang menarik. “Bagi saya Suriah tidak menakutkan,” ceritanya kepada majalahkartini.co.id di salah satu Mal di bilangan Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Mia pun berpikir, ketika ditugaskan ke Suriah, dia yakin tidak mungkin ditempatkan di tempat yang tidak aman dan tidak ada perlindungan. Lebih uniknya, kata Mia, saat ditawari untuk tugas diplomat itu, suaminya tidak menanyakan lebih dulu untuk ditugaskan dimana. “Dia maen OK saja waktu itu,” tuturnya sambil tertawa. Rencananya, lanjut Mia, tiga bulan sekali akan pulang, ternyata tiga bulan yang dirasakan Mia terasa lama berada di Suriah. “Ditambah perbedaan waktu dan kesempatan untuk saling kontak,” tambah Mia yang sekarang tinggal di Depok.

Athar Caraka Sidqi yang masih kecil, anak semata wayang Mia dan Sidqi, tidak tahu jika ayahnya yang sedang di luar negeri itu adalah seorang diplomat di Suriah. Athar hanya tahu jika ayahnya sedang bekerja. Mia mengatakan, meski ayahnya bekerja jauh dan berisiko, hak Atar tetap dijaga sepenuhnya. “Meski ayahnya kerja di Pejambon (kantor Kemenlu) atau di Suriah sebisa mungkin komunikasi dengan ayahnya tetap berjalan. Alhamdulillah seminim apapun keadaannya, video call masih bisa. Jadi Athar merasa ayahnya sedang kerja aja,” ujarnya.

Saat yang ditunggu Mia pun tiba, penantiannya bisa bersama dan mendukung suami bekerja di Negeri orang terjawab. Permohonan kunjungan ke Suriah dikabulkan. Bayangan indah ketika di Indonesia tak terjadi, pasalnya Suriah termasuk pos Negara Berbahaya. Namun dengan semangat dan harapan tak menangguhkan niatnya untuk mengunjungi sang suami. Banyak hal yang sempat ia lakukan, salah satunya ialah program kehamilan.

Cerita berkesan Mia ketika hamil di mana keterbatasan itu terjadi di rumah sakit di Suriah. Perempuan yang pernah berkacamata ini mengatakan saat program hamil, saat itu sudah 12 minggu usia kandungan. Kala itu, Mia mendapat saran dari dokter kandungan di Suriah bahwa lebih baik hingga melahirkan berada di Suriah. “Tetapi dokter kan prakteknya jam 4, terus suka mati lampu tuh. dan itu semua orang naik tangga loh ke lantai 4,” ujar perempuan yang kini sibuk sebagai pendiri Bubu Institute ini. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan Mia dan Athar pun kembali ke Indonesia dan melanjutkan kehamilan di Indonesia.

Selama ini lanjut mia, Athar tidak tahu perang itu menyeramkan atau bagaimana. Mungkin berbeda cerita saat Athar pergi langsung ke Suriah. Selain itu, ayahnya pun menyikapinya tidak begitu risau, menyikapinya biasa saja. “Misalnya ada suara-suara gitu nah dia tanya itu suara apa, itu suara bom. Terus kita lihat, itu bangunan yang hancur. Banyak bangunan yang hancur, mal juga tinggal separuh. Banyak pemandangan itu. Ya Athar dikasih tahu, kayak gini loh Thar. Tapi tidak sampai ada adegan yang benar-benar meledak. Maksudnya memberi pemahaman Negara ini beda ya dengan Indonesia, Athar bersyukur ya tinggal di rumah aman,” ungkapnya

Mia juga mengungkapkan anak-anak di Suriah, di sana juga sebenarnya anak-anak pun dilindungi. Di Damaskus, masih ada taman-taman kota untuk bermain dan berkumpul yang keindahannya masih terjaga. Namun, Mia juga mengatakan, ini lebih hebat, Athar diungkap Mia, dia berkesan tinggal di Suriah. “Jadi pekerjaan ayahnya nggak membawa pengaruh buruh, bahkan trauma bagi dia pun tidak ada,” ujarnya.

Melepas Suami di Negara Berisiko

Perempuan kelahiran Subang, 20 Mei 1986 ini juga bercerita ketika sudah tidak bersama lagi menjaga suami di Suriah, karena dirinya kini berada di Indonesia. Komunikasi dengan suami, dia bercerita masih terus dilakukan, tetapi yang terpenting kata dia adalah, pertama komunikasi dengan suami sebelum bertugas di Kementerian Luar Negeri dia dan suami memiliki sepemahaman di mana tugas adakah tugas. “Kita lebih mementingkan kepentingan orang banyak dari pada kepentingan diri sendiri. Dia volunter aku volunter di mana tugas sudah sama-sama disepakati. Sudah saling menerima,” ujar lulusan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia angkatan 2004 ini.

Kemudian, lanjut Mia, tentu yang kedua adalah sebagai istri yang selalu mendoakan. Suami pergi ke Suriah merupakan jalannya jalan fisabilillah. Jadi, apapun yang terjadi, misalkan maut, itu berarti kami dipisahkan oleh ajal. “Jadi dia (suami) tidak kepikiran, aku juga tenang. Yang namanya maut dari rumah ke kantor yang di Jakarta kena banjir juga bisa, nggak usah jauh-jauh ke Suriah,” tuturnya.

Mia juga bersyukur lantaran keluarga begitu mengerti keadaaan dia dan suami. Menurutnya, keluarga juga mengerti konsekuensi pekerjaan diplomat, di mana setiap pos adalah pekerjaan penting di manapun ditempatkan. Ditambah lagi, dukungan keluarga dari sisi agama tentang takdir Yang Maha Kuasa juga sangat menguatkan. “Ketika aku down banget, orang tua juga membantu. Berserah sama Tuhan bahwa semuanya pasti ada hikmahnya. Selama itu masih bisa dijalani, jalani aja,” ujar perempuan yang sempat meraih mahasiswa berprestasi FIK UI 2007 ini.

Athar, kata Mia, tidak tahu Suriah itu bagaimana gawatnya. Keluarga tidak memperlihatkan foto-foto di Suriah, keadaan anak-anak di Surih. Alasannya tidak ada maksud yang tepat untuk diberitahukan kepada Athar dan gunaya pun belum ada memperlihat kan ke Athar.  “Saat ini sih belum ada manfaatnya. Makanya yg kita bangun yang itu aja. Ayah kerja, ya kadang story time malem-malam dia pake video call atau voice call dari ayahnya juga jadi itu perjuangan juga sih kalo sinyalnya mati mau gimana lagi, Jadi disini Athar ngga terlalu berbeda meskipun terpisah jarak,” ujarnya

Tentang Menjadi Istri Staf KBRI

Disinggung harapan Mia dan suami sebagai diplomat, Mia mengaku belum banyak tahu lika-liku pekerjaan tersebut. Tetapi, dia menegaskan bahwa pekerjaan suami sebagai diplomat itu tidak mudah atau hanya terlihat yang menyenangkan saja. Banyak peran dan tugas yang mesti diemban, tidak semata-mata hanya berpergian ke luar negeri.

Dengan berbagi kisah tentang penugasan suami di pos Negara Berbahaya ini Mia berharap masyarakat juga tahu, bahwa perjuangan para Caraka Indonesia tidak hanya dilakukan oleh mereka yang berdiplomasi di ruang dingin gedung PBB, tetapi juga mereka yang berada di tengah panas terik menggunakan rompi anti peluru.

Mia hanya berharap khususnya di negara-negara seperti Suriah, pengamanan yang paling utama, karena tahu pekerjaan sebagai diplomat adalah pekerjaan yang berisiko. Dimana rela suami bekerja lebih baik sebagai abdi negara. Karena bagaimanapun mereka juga sipil. Tidak mengerti pegang senjata bahkan kadang-kadang perwakilan tidak semua dilengkapi dengan bunker dan fasilitas keamanan super lengkap lainnya. “Dia harus pergi ke Aleppo mobilnya bukan anti peluru kan kita juga sedih ya khawatir ada sniper,” ujarnya.

Tak hanya itu jika terjadi persaoalan atau perang misalnya banyak orang bertanya-tanya kepada Mia, mengapa terjadi dan seperti apa yang sebenarnya terjadi. Menanggapi hal itu Mia tak banyak berkomentar karena memang bukan ranahnya, yang selama ini ia pahami adalah perwakilan Indonesia di Suriah -dalam hal ini suami- mengemban tugas yang tidak ringan, salah satunya adalah melindungi dan memastikan warga Negara Indonesia dalam kondisi baik-baik saja. “Terlepas terjadi konflik yang bersifat kompleks, saya pikir itu sudah ada yang menangani,” pungkasnya.


Sumber:
http://majalahkartini.co.id/inspiratif/kisah/cerita-mia-ilmiawaty-melepas-suami-bertugas-di-negara-bergolak/
Keluarga Kartika Nugmalia/FOTO: majalahkartini.co.id
Memiliki buah hati, bagi semua ibu di dunia, sejatinya adalah keindahan dan kebahagian dalam hidup. Ditambah anak yang dilahirkan sehat tanpa kekurangan satu apapun. Hal itu pun diungkapkan oleh Kartika Nugmalia, seorang ibu yang memiliki dua dari tiga buah hatinya berkebutuhan khusus. Melihat tumbuh kembang anak yang kian hari miliki kebutuhan khusus, penyangkalan atau penolakan pernah dialaminya.

“Saya rasa orangtua manapun pasti ingin punya anak normal dan sehat. Penyangkalan tentu ada di awal. Seiring waktu, berusaha mencari ilmu entah dari internet, bertanya pada dokter spesialis yang mumpuni dan menemukan sahabat seperjuangan yang saling menyemangati dan memotivasi akhirnya lambat laun kami bisa menerima kondisi Shoji (5,8 y) dan Aisha (14 m) seperti saat ini,” tuturnya kepada majalahkartini.co.id.

Memiliki komitmen dan janji yang kuat di awal pernikahan, satu suara, satu hati, saling terbuka dan saling mendukung adalah salah satu kekuatan terbesarnya saat mengetahui kedua buah hatinya tumbuh dengan kebutuhan khusus. Selain suami, dukungan keluarga adalah motivasi hidup dalam dirinya. “Keluarga besar, Alhamdulillah juga menerima kondisi Shoji dan Aisha, begitu juga sahabat sahabat kami bahkan teman di sosial media pun memberikan dukungan dari komentar yang menyemangati saat kami berbagi cerita tentang Aisha dan Shoji,” ujar perempuan yang biasa disapa Aya ini.

Sebenarnya anak pertama Aya (Shoji), hingga usia 17 bulan layaknya balita-balita normal lainnya. Dia, kata Aya, mampu mengucapkan kata seperti “cicak, tutup, ayah”. Namun saat usianya menginjak 18 bulan, perlahan kemampuan menyebutkan nama-nama itu malah menghilang, Shoji lebih banyak berkomunikasi menggunakan gerak tubuh.

“Hingga usia kurang lebih 4,5 tahun kemampuan bicaranya masih terbatas seperti anak usia 1,5 tahun. Baru satu tahun belakangan ini Shoji mulai bisa merangkai kalimat sederhana di usia hampir 6 tahun,” ceritanya. Kebahagiaan Aya saat Shoji berhasil mengucap kata demi kata mungkin telah lebih awal dialami oleh para ibu yang lain. Namun bagi Aya tak ada kata terlambat, seberapa pun kemajuan yang Shoji berikan adalah berkah yang tiada terkira.

Kemudian, Aisha. Aya mengungkapkan apa yang terjadi pada Aisha lebih kompleks. Buah hatinya paling kecil ini terdiagnosa echepolamalacia lobus parietal bilateral (pelunakan jaringan otak) ditambah ada kejang epilepsi yang mengarah ke west syndrom. West syndrom merupakan salah satu jenis epilepsi kejang halus yang risiko kerusakan otaknya lebih berbahaya dari epilepsi kejang biasa. “Namun kata dokter sudah ada pengobatan dan terbukti bisa disembuhkan. Inilah salah satu harapan terbesar kami,” ujar lulusan Ilmu Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian UGM ini.

Demi kesembuhan buah hatinya,terapi yang dilakukan Aya untuk Shoji adalah terus melakukan terapi sensori integrasi 4 kali sebulan dan fisioterapi 1 kali sebulan. Sementara untuk Aisha, pengobatan yang dilakukan saat ini yakni terapi sensori 3 kali seminggu dan terapi wicara (oral) 1 kali seminggu, ditambah terapi obat anti kejang dan beberapa vitamin untuk mengoptimalkan fungsi otak. “Untuk orangtua dengan anak berkebutuhan khusus, sebenarnya yang harus “diobati” adalah orangtuanya dulu,” ujarnya yang pernah sibuk sebagai guru Taman Kanak-Kanak.

Sakit Penggugur Dosa

Ibu yang juga aktif sebagai blogger ini pun mengungkapkan, rasa down dan penyangkalan saat melihat anak pertama memang dialaminya begitu terasa dan dalam. Karena dimana teman-teman yang memiliki anak seumuran Shoji sudah bisa ceriwis, Shoji belum bisa sepatah kata pun. Namun beda kasus dengan Aisha, aya merasa down saat tahu hasil test OAE REFER telinga kanan-kiri (diduga hearing-loss). Bahkan, ditambah lagi hasil tes CT scan dan EEG Aisha mengarah ke diagnosa Cerebral Palsy. “Tapi setelah tau bahwa masih ada ikhtiar yang bisa saya lakukan untuk mengejar tumbuh kembangnya ya udah dijalani aja,” ungkapnya.

Selain keadaan itu, Aya bercerita, keadaan paling down atau drop ketika kondisi sedang sangat lelah. Dimana Aisha begadang lalu susah makan, ditambah rewel tidak ingin minum obat. “Saya bisa nangis sendiri. Kalau udah gitu langsung deh curhat sama suami, salat juga biasanya udah balik semangat lagi,” ucapnya. “Oh iya, ajian anti baper (bawa perasaan_red) juga saya tulis di blog pribadi saya supaya jadi pengingat kalau saya baper dan down, saya baca lagi poin-poin yang bisa bikin saya semangat lagi,” tambahnya.

Diungkap Aya, banyak yang membuat dirinya selalu semangat. Perkembangan Shoji satu tahun belakangan ini begitu pesat. Sehingga Dia selalu bersyukur dan meyakini tidak ada yang tidak mungkin atas ijin Allah. Ditambah Aisha pun menunjukan kemajuan. “Setahun lalu Shoji baru bisa mengucap satu suku kata, saat ini Shoji sudah bisa merangkai kalimat sederhana. Aisha pun mulai menunjukkan kemajuan. Sekecil apapun progressnya selalu saya dan suami syukuri sungguh sungguh,” tutur perempuan yang hobi memasak ini.

Pada keseharian dalam mendidik putra-putrinya, Aya memberikan dasar pemahaman yang lebih mengarah pada logika. Dia memberikan contoh saat mengajak Shoji dan Aisha makan biar badan kuat. kemudian, untuk mandi supaya badan wangi dan tidak ada kuman, dan lain sebagainya. Meski dalam keseharian Shoji, Rey, dan Aisha bermain bersama, namun Shoji dan Rey tidak tahu adiknya, Aisha, itu sakit. “Mereka masih taunya Aisha masih bayi jadi nggak bisa ngapa-ngapain jadi ya saya tekankan aja kalau adik Aisha sakit, nanti kakak bantu doa biar cepat sembuh ya, supaya adek Aisha bisa diajak main sama sama,” ujar Aya.

Kegiatan ketiga anaknya saat ini Shoji sedang tertarik dengan aktivitas merangkai Lego, Rey masih eksplorasi permaianan bongkar pasang. “Saya dan suami support apapun yang jadi minat mereka. Kalau Aisha juga masih belum kelihatan minatnya dimana,” sambil tersenyum.

Sebagai seorang ibu yang telah melewati rasa tak menerima, sabar, dan menangis atas keadaan buah hatinya. Aya selalu mengingat apa yang telah membuatnya termotivasi. Kata dia, ada dua kalimat yang saya ingat ketika Aisha di kamar bayi PICU rumah sakit, yaitu QS Al Insyirah 5-6, di mana artinya adalah “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” dan “Sakit itu penggugur dosa”.

Tak Ingin Patah Semangat

Memiliki pengalaman dengan buah hati berkebutuhan khusus, Aya tidak ingin melihat ibu-ibu lain patah semangat. Dia kerap mengampanyekan apa yang dia alami, apa yang dia baca. Aya berbagi ilmu bersama teman-teman baiknya di sosial media seperti facebook dan blog, bahkan Aya juga berbagi pengalamannya di komunitas.

“Pernah ikut TORCH Campaign yang diadakan Rumah Ramah Rubella juga, ikut seminar dan bergabung di komunitas supporting group anak berkebutuhan khusus baik di sekolah Shoji, di whatsapp group orangtua anak dengan epilepsi, maupun di Facebook group Wahana Keluarga Cerebral Palsy. Makin banyak ilmu dan makin banyak teman itu bikin saya dan suami lebih enjoy menikmati proses bareng anak anak,” ujarnya.

Selain itu, dalam memberikan informasi, Aya mengatakan karena dirinya merupakan orang yang senang bercerita, jadi jika bertemu orang jadi banyak cerita. Ditambah Aisha selalu dibawanya kemana-mana. Saat itulah banyak yang bertanya tentang usia dan kebisaan Aisha selama tumbuh kembangnya. “Saat itu juga kesempatan saya untuk cerita tentang kondisi Aisha dan apa apa saja yang berpotensi menjadi penyebabnya. Kadang tanggapan orang beda beda sih, ada yang terdiam, ada yang mengiyakan, ada yang balik cerita kondisi sodara/teman yang ABK, ada yang menyemangati dan ada pula yang “ngepuk puk” biar lebih sabar.” bebernya.

Kini harapan ibu cantik untuk Shoji, Rey, Aisha adalah menjadi anak mandiri dan bekarakter. Menjadi manusia yang utuh dengan segala ketidaksempurnaan yang sesungguhnya menjadikan mereka sempurna. Percaya diri, mampu memberdayakan diri sendiri, dan menjadi pribadi yang takut akan Tuhan. “Dan berguna bagi sesama,” harapnya.

Sumber:
http://majalahkartini.co.id/inspiratif/kisah/ketegaran-kartika-nugmalia-ibu-dari-2-anak-berkebutuhan-khusus/
Noelia Garella/FOTO: sisidunia

Perempuan yang berasal dari Argentina ini memiliki cita-cita ingin menjadi guru meski dia adalah seorang penderita down syndrom. Selain berhasil menjadi guru, dia juga kini memiliki sekolah playgroup Noelia Garella, seorang penderita down syndrom atau keterbelakangan mental, menjadi viral di dunia. Pasalnya dia telah berhasil mewujudkan mimpinya mendidik anak-anak di Playgroup miliknya sendiri. Namun hal tersebut tidak begitu mudah didapatkannya. Pada masa kecilnya, Noelia ditolak dalam sebuah playgroup di Argentina.

Penolakan oleh pihak sekolah, pasalnya dulu Noelia memiliki keterampilan yang berbeda. Seperti dilansir dari Independent.co.uk, bahkan dirinya disebut sebagai ‘monster’. Meski masa kecilnya ditolak masujk playgroup, kini perempuan yang telah berusia 31 tahun ini telah membuka sekolah playgroup sendiri.

Playgroup milik Noelia mengajarkan anak-anak berusia dua sampai tiga tahun. belajar mengajarnya cara untuk membaca. Awal untuk mengajar, Noelia pun dipertanyakan orang-orang. Di mana mereka bertanya bagaimana bisa seseora yang memiliki kekurangan kognitif dapat mengajar di kelas. Namun, keraguan tersebut justru dibantah dengan kelasnya yang diikuti banyak anak.

Menjadi seorang guru merupakan impian Noelia sejak kecil. Dia juga mengaku sangat suka dengan anak-anak. Noelia menginginkan anak-anak itu punya kesempatan untuk belajar membaca dan mendengar. “Karena dalam pergaulan, orang-orang harus saling mendengar satu sama lain,” kata Noelia.

Kecintaan pada anak-anak itu ditunjukkan dengan dia sering membacakan cerita kepada anak-anak dengan gaya sesuai karakter yang diceritakan. Sekarang, Noelia menjadi seorang guru di playgroup sebuah kota di utara Argentina, Cordoba. Noelia mengawali karier di Cordoba menjadi asisten guru untuk kelas membaca pada 2012. Sejak Januari 2016, dia menjadi guru sebuah kelas sendiri.

Sumber:
sumber: http://majalahkartini.co.id/inspiratif/kisah/noelia-garella-perempuan-syndrom-menjadi-guru/
Jero Wacik/FOTO: tempo.co
 Ceceran duit suap SKK Migas yang ditemukan di rumah, kantor hingga ruang Sekjen Kementrian ESDM, tentu jadi tanda tanya besar, ke mana saja aliran dana SKK Migas itu mengalir? Hingga kini KPK masih terus mkendalami keterlibatan di lingkungan Kementerian ESDM. Benarkah Jero Wacik, Waryono Karno, Sutan Bhatoegana dan Tri Yulianto ikut menerima Suap SKK Migas?

Keberadaan mafia Migas dinilai banyak kalangan telah menggerogoti industri Migas nasional. Kasus yang melibatkan Rudi Rubiandini merupakan momentum untuk memberantas mafia migas yang selama ini kelihatan ada namun tidak ada. Sejak jaman dulu banyak sekali inefisiensi dan korupsi di sektor Migas Indonesia dan kasus ini merupakan puncak gunung es yang lebih besar. Jika KPK sungguh-sungguh bekerja menuntaskan kasus ini maka banyak kalangan menilai langkah ini akan sangat besar manfaatnya bagi ekonomi Indonesia karena biaya untuk menghasilkan BBM termasuk mahal sekali bila dibandingkan dengan negara-negara lain.

Agustus lalu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil menangkap Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) di kediamannya kawasan elit Brawijaya VIII Nomor 30, Jakarta Selatan. Malam itu Rudi baru saja menerima uang sogokan sebesar US$ 400 ribu dari perusahaan trading minyak yang berkantor di Singapura, Kernel Oil. Selain uang, malam itu ia juga diberikan sebuah motor gede klasik merek BMW seri R50 warna hitam bernopol B3946FT lengkap dengan STNK dan BPKB yang juga dibawa pelatih golf Rudi, Daviardi. Selain itu, KPK juga menemukan uang sebesar US$ 90 ribu dan Sin$ 127 ribu yang dikemas dalam kardus bekas kemasan peci.

Sekitar pukul 24.00 WIB KPK juga menangkap Simon G Tanjaya, petinggi Kernel Oil di Apartemen Mediterania Lantai 21 Tower H, Jakarta Barat dan langsung digelandang penyidik ke Gedung KPK bersama dua orang Satpam Apartemen Mediterania. Malam itu juga KPK menggeledah rumah Ardi di Jalan Hortikultura No 15 Pasar Minggu, Jakarta Selatan dan ditemukan uang sekitar US$ 200 ribu.
Pada pemeriksaan lanjutan diketahui bahwa pada bulan Ramadhan yang lalu Rudi juga pernah menerima suap sebesar US$ 300 ribu. Kasus tersebut dinaikkan ke tahap penyidikan karena telah ditemukan dua alat bukti cukup kuat. KPK menetapkan Rudi, Ardi dan Simon sebagai tersangka terkait komitmen fee US$ 700 ribu atau sekitar Rp 7 miliar yang diserahkan sebanyak dua kali. Rudi dan Ardi ditahan di penjara KPK sedangkan Simon ditahan di penjara Guntur.

Keesokan harinya, Rabu malam (14/8/2013) KPK menggeledah ruang Kepala SKK Migas dan ditemukan uang sebesar Sin$ 60 ribu, 180 gram kepingan emas dan US$ 2 ribu yang disimpan dalam brankas. KPK juga menemukan uang US$ 350 ribu yang tersimpan dalam deposit box milik Rudi di Bank Mandiri. Selain itu KPK juga memeriksa lima ruang lainnya seperti ruangan Wakil Kepala SKK Migas Johannes Widjonarko yang kini menjadi Kepala SKK Migas menggantikan Rudi di Lantai 39, ruangan Kepala Divisi Pengendali Operasi di Lantai 27, ruangan Kadiv Manajemen Proyek di Lantai 28, ruangan Deputi Pengendalian Hubungan Bisnis, dan ruang Kadiv Pengendalian Rantai Suplai.

Di waktu yang sama KPK juga menggeledah ruang Sekretaris Jenderal ESDM, Waryono Karno di Lantai 2 Kementrian ESDM di Medan Merdeka Barat. Dari penggeledahan tersebut kembali ditemukan sebesar US$ 200 ribu dalam sebuah tas hitam. Waryono Karno yang ditemui The Politic Kamis (15/8/2013) siang di kantornya membenarkan adanya penggeledahan yang dilakukan KPK, hanya saja ia tak tahu dasar penggeledahan tersebut dan merasa bingung. Selain itu ia pun membantah ditemukannya uang US$ 200 ribu di ruang kerjanya yang diduga aliran suap dari Kernel Oil. “Nggak dong, itu juga saya baru dengar Kernel itu,” bantahnya kala itu.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami dugaan keterlibatan pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dalam kasus suap di lingkungan SKK Migas. Termasuk dugaan keterlibatan Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Waryono Karno. Dalam rangka itu, penyidik meminta keterangan sejumlah saksi yang dianggap mengetahui kasus suap yang telah menjerat mantan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini sebagai tersangka. Adapun saksi asal Kementerian ESDM yakni Icha selaku pegawai Sekjen Kementerian ESDM,  Seno selaku protokoler Sekjen Kementerian ESDM, Hilman Pribadi selaku tenaga sekretariat Sekjen kementerian ESDM

Sekretaris Jenderal yang telah pensiun tertanggal 20 Desember 2013, Waryono Karno pun sudah tiga kali diperiksa KPK sebagai saksi, pertama pada 21 Oktober 2013 dan 4 November 2013 lalu. Ketiga kalinya Waryono dipanggil KPK pada Senin 2 Desember 2013 yang bertepatan dengan dipanggilnya Menteri ESDM Jero Wacik. Waryono datang sekitar pukul 08.30 WIB di gedung KPK, dikawasan Kuningan, Jakarta Selatan. “Saya diperiksa untuk RR (Rudi Rubiandini),” ujar Waryono singkat saat tiba di KPK.

Usai pemeriksaan Waryono tidak langsung keluar gedung KPK. Justru, Waryono menunggu Menteri ESDM, Jero Wacik untuk keluar lebih dahulu dari pintu pemeriksaan saksi gedung KPK. Tampaknya, hal tersebut dimanfaatkannya untuk bersembunyi dari kejaran wartawan yang telah menunggu.

Waryono ternyata keluar dari pintu lain sekitar pukul 17.45 WIB, pada saat itu pula, Jero Wacik sedang diwawancarai oleh awak media. Oleh wartawan yang meilhat Waryono keluar dari pintu lain langsung mengejarnya dan memberondong kembali pertanyaan perihal uang yang ditemukan oleh KPK di ruang kerjanya. “Ya biasalah tambahan saja. Itu (uang USS 200 ribu) sudah dijelasin, iya itu bukan (uang operasional),” ujar Waryono sambil memasuki mobil yang telah menjemputnya.

Sudah kali ketiga Waryono diperiksa KPK. Namun dugaannya terlibat dalam kasus suap di SKK Migas pada tahun 2012-2013 atas tersangka Rudi Rubiandini, hingga kini status Waryono Karyo masih sebagai saksi.

Selain pemeriksaan ketiga Waryono, 2 Desember 2013 itu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik juga diperiksa sebagai saksi pada kasus dugaan suap SKK Migas di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tapi Jero menolak membeberkan temuan KPK perihal setumpuk uang dollar dalam tas hitam di ruangan Sekjen ESDM, Waryono Karno, senilai US$200 ribu. “Itu saya tidak tahu. Dan itu juga sudah dijelaskan Pak Sekjen (Waryono) ke penyidik KPK,” ujar Jero Wacik di gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (2/12/2013).

Jero menjalani pemeriksaan sekitar 8 jam di gedung KPK. Uang US$ 200 ribu itu ditemukan penyidik KPK saat menggeledah ruang kerja Waryono. Sebagai atasan, Jero Wacik sudah meminta klarifikasi perihal uang yang disimpan di sebuah tas hitam kepada bawahannya. "Saya tidak ditanya soal itu. Tapi itu sudah dijelaskan ke KPK," katanya sambil memasuki mobil yang sudah menunggunya di depan lobi gedung KPK.

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad mengatakan, pemeriksaan Jero Wacik adalah sebagai saksi untuk tersangka Rudi Rubiandini. Abraham mengatakan keterangan Jero dianggap penting untuk membuka perkara suap di SKK Migas. ”Keterangan Jero diperlukan untuk bisa mengembangkan lebih jauh ada tidak keterlibatan anggota Dewan,” kata Abraham sebelum rapat dengan Komisi Hukum di kompleks parlemen, Senayan, Senin (2/12).

Jero Terlibat? Senin, 9 Desember 20113, kuasa hukum tersangka kasus suap SKK Migas Deviardi, Effendi Saman,  meminta KPK untuk tidak bertindak tebang pilih terhadap Menteri ESDM Jero Wacik.  Effendi menyampaikan bahwa, kliennya Deviardi siap menjadi whistleblower membongkar tabir mafia Migas di Indonesia jika diminta. Effendi juga mengklaim Menteri Jero melakuan pembiaran terjadinya tindak pidana korupsi. “Contoh sederhana penemuan uang 200 ribu dolar di ruangan Sekjen, dia (Jero Wacik) berkata bahwa itu uang operasional, lalu dia membantah setelah penyidik KPK melakukan investigasi yang lengkap, lalu dia mengatakan itu adalah uang haram,” ungkap Effendi.

Menurut penilaian Effendi, Jero sebagai menteri ESDM memilikli tanggung jawab penuh terhadap SKK Migas. “Maka peran kebijakan dan regulasi pelaksanaan transaksi mafia Migas patut diduga diketahui Jero Wacik,” ucapnya.

Dalam perspektif hukum, tambah Effendi, perilaku pengambil keputusan membiarkan terjadinya kebocoran dan penerimaan suap kepadanya patut dibebankan sanksi hukum. Indikasi keterlibatan Jero juga dikuatkan dengan ditemukannya seri uang yang berurutan antara uang hasil penangkapan KPK terhadap Deviardi dan Rudi dengan hasil penggeledahan dan penyitaan uang di ruang kerja Sekjen ESDM, Waryono Karno.

Berdasarkan temuan tersebut, Effendi siap membuat kliennya membuka tabir mafia Migas di Indonesia. Hal ini sebagai bentuk penebusan kesalahannya dengan pengakuan jujur di persidangan. “Saat ini yang harusnya ditahan adalah Jero Wacik. Indikasi yang kuat nanti (peran) ini akan diungkap dalam persidangan Deviardi sebagai tersangka,” pungkas Effendi.

Firdaus Ilyas salah satu anggota ICW, mengatakan bahwa secara struktural jabatan Jero Wacik saat ini memungkinkan terlibat. Bawahan bisa jadi ikut terseret dalam kasus suap SKK Migas ini. “Hal pertama yang dapat kita lihat adalah pada penetapan dan pencekalan oleh KPK terhadap ajudan pribadi Menteri Energi dan Sumber daya Mineral (ESDM),” ujarnya.

Firdaus Ilyas meyakini bahwa pencekalan terhadap ajudan Jero Wacik merupakan alasan untuk mempermudah penyelidikan. “Tujuan sangat mendasar, yakni demi penelusuran KPK lebih lanjut atas keterkaitan dari mentri ESDM, Jero Wacik sendiri, yang memiliki kewenangan dalam mengawasi SKK Migas,” ucapnya.

Lebih lanjut Firdaus Ilyas menuturkan bahwa di sisi lain pencekalan atas ajudan pribadi Jero Wacik untuk melihat secara lebih gambalang dugaan suap ataupun permainan di dalam trading minyak untuk SKK Migas, cukup tidak dipenuhi unsur pelanggaran kewenangan yang dilakukan oleh pengawas SKK Migas dalam hal ini Menteri ESDM Jero Wacik sendiri. “Secara normatif saya katakan bahwa sangat terbuka peluang bahwa sebagai pengawas SKK Migas Jero Wacik bisa terseret dalam kasus ini,” kata Firdaus.

Berdasar Pasal 12 UU Nomor 22 Tahun 2001 Tentang Migas, yang mengatur Tugas dan Wewenang Menteri ESDM, disebutkan pada Ayat (1), bahwa Wilayah Kerja yang akan ditawarkan kepada Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap ditetapkan oleh Menteri setelah berkonsultasi dengan Pemerintah Daerah. Ayat (2), Penawaran Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) dilakukan oleh Menteri.

Pada Ayat (3), tugas Menteri ESDM yakni menetapkan Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang diberi wewenang melakukan kegiatan usaha Eksplorasi dan Eksploitasi pada Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud dalam Ayat (2).

Sementara itu, dalam Pasal 4 Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 9 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pengelolaan kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas tertuang, bahwa Komisi Pengawas SKK Migas dipimpin oleh Menteri ESDM. Salah satu tugas Komisi Pengawas adalah memberikan persetujuan terhadap usulan kebijakan strategis dan rencana kerja SKK Migas dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan kegiatan hulu minyak dan gas bumi.

Sepak terjang Jero Wacik dalam pusaran kasus suap SKK Migas disebut Firdaus Ilyas cukup memiliki pengaruh. Struktural jabatan Jero Wacik sangat memungkinkan dirinya terlibat dan ikut terseret dalam kasus suap SKK Migas. “KPK nggak mungkin mencekal ajudan Menteri jika bukan untuk mengorek keterangan lebih lanjut terkait keterlibatan Jero dalam kasus SKK Migas,” jelasnya. Lebih lanjut Firdaus Ilyas melihat adanya pelanggaran kewenangan yang dilakukan oleh pengawas SKK Migas dalam hal ini Menteri ESDM Jero Wacik sendiri. Menurut Ilyas, sangat terbuka peluang sebagai pengawas SKK Migas Jero Wacik bisa terseret dalam kasus ini.

Dalam kasus Suap SKK Migas, ajudan pribadi Jero, I Gusti Putu Ade Pranjaya telah dilarang bepergian ke luar negeri oleh KPK. KPK menilai ajudan Jero punya peran penting dalam kasus suap yang melibatkan Ketua SKK Migas non Aktif Rudi Rubiandini. Setelah enggan berkomentar setelah diperiksa KPK beberapa waktu lalu, Senin (16/12) Jero yang ditemui The Politic di Kementerian ESDM juga enggan berkomentar saat ditanya keterlibatannya dalam kasus suap SKK Migas. Sore itu, Jero yang mengenakan baju batik warna cokelat dan celana hitam, hanya tersenyum saat dimintai konfirmasinya seraya masuk ke dalam mobil dinasnya.

Rudi Bagi THR ke Komisi VII. Mantan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini mengaku pernah dimintai THR oleh pihak Komisi VII DPR RI. Permintaan THR itu membuat Rudi tertekan dan sempat bercerita kepada pelatihnya, Deviardi saat bermain golf. Saat itu, Deviardi menyanggupi untuk membantu mencari dana. Demikian diungkapkan Rudi saat bersaksi untuk terdakwa suap SKK Migas, Simon Gunawan Tanjaya di Pengadilan Tipikor, Kamis (28/11/2013). "Periode pertama THR itu sudah saya serahkan ke seseorang bernama Tri Yulianto," kata Rudi di hadapan Majelis Hakim.
Sebelumnya, nama politikus Partai Demokrat, Sutan Bhatoegana juga dikabarkan muncul dalam dokumen yang diduga adalah berkas acara pemeriksaan Rudi Rubiandini. Sutan disebut pernah meminta Tunjangan Hari Raya (THR) kepada Rudi, yang kala itu menjabat Kepala SKK Migas. Dokumen itu menyebutkan, Sutan menghubungi Rudi dan 'memalak' Rudi dengan dalih meminta THR untuk anggota Komisi VII DPR, pada awal puasa 2013. Tak hanya itu, Sutan juga disebut kerap mengajak Rudi untuk bertemu. Dokumen itu mencatat, pertemuan antara Sutan dan Rudi digelar di sejumlah tempat, seperti, Pacific Place, Bellagio dan Plaza Senayan.‎

Petikan BAP Rudi: "Waktu itu di awal puasa tahun 2013. Tapi saya tidak ingat di mana Bpk. Sutan Batoeghana meminta uang THR untuk Komisi VII. Mengingat lebaran akan tiba, dan setelah itu ada beberapa kali bertemu dengan SUTAN BATUGANA. Dan SUTAN BATUGANA menanyakan 'SUDAH BELUM' saya jawab 'BELUM'.." Sopan Sopian, Sipri.




Sumber:

sumber: Tabloid The Politic Edisi 4 Tahun III